Sambut Jaringan 5G di Indonesia

Di upper band, Indonesia memiliki frekuensi 26 GHz. Frekuensi ini masih kosong dan menjadi kandidat kuat untuk implementasi 5G, jika ingin segera dikomersialkan.

Sambut Jaringan 5G di Indonesia

5G atau Fifth Generation (generasi kelima) adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut generasi kelima sebagai fase berikutnya dari standar telekomunikasi seluler melebihi standar 4G.

Michael Lemke, disebut-sebut sebagai orang yang punya andil dengan munculnya teknologi 5G. Pria berkebangsaan Jerman ini merupakan ahli fisika yang bergelar PhD (doktor). Kabarnya, ia menggeluti dunia telekomunikasi sudah hampir 24 tahun lamanya.

Michael Lemke dianggap sosok penemu (bapak) dari jaringan 5G. Penemu 5G melakukan penelitian di Dresden University of Technology yang dimulai sejak Januari 2016. Perkembangan 5G digunakan untuk dasar Internet of Things, smart city dan telemedicine. 

Saat ini pun Lemke merupakan ahli teknologi senior di salah satu brand seluler ternama yaitu Huawei. Setelah teknologi jaringan seluler berkembang pesat dan sampai pada tahap 4G, Lemke memprediksikan akan hadirnya teknologi jaringan kelima yaitu 5G.

Untuk mewujudkan teknologi canggih tersebut negara Jerman sudah bersiap diri melalui Dresden University of Technology yang dimulai sejak Januari 2016. Di tempat ini terdapat laboratorium khusus yang dinamakan 5G Lab Germany.

Dengan melibatkan 22 profesor dan bekerjasama dengan 600 karyawan dari penyedia internet seperti Vodafone, Nokia, Ericcson dan Bosch, mereka siap mewujudkan jaringan masa depan tersebut. Pengembangan teknologi 5G ini dipimpin oleh Frank Fitzek dari Deutsche Telekom.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) beberapa waktu lalu mengumumkan tiga operator seluler yang berhak mendapatkan pita frekuensi radio 2,3 Ghz pada rentang 2.360-2.390 Mhz. Frekuensi tersebut digunakan untuk menggelar jaringan 5G di Indonesia.

Tiga operator seluler yang lolos seleksi administrasi Kominfo ialah Smartfren, Telkomsel, dan Hutchison Tri Indonesia.

Mengutip halaman resmi Kementerian Kominfo, harga lelang frekuensi 2,3 Ghz tersebut adalah Rp 144,8 miliar. Ketiga operator seluler yang lolos seleksi, menawarkan harga yang sama untuk mendapatkan frekuensi tersebut.

Dengan ditetapkannya tiga operator seluler sebagai pemenang lelang, hal ini menyisakan Indosat dan XL Axiata yang tidak mendapatkan blok jaringan 5G di pita frekuensi radio 2,3 Ghz tersebut.

Sebagai informasi, pada pendaftaran awal lelang, ada lima operator yang mengambil dokumen seleksi. Namun, Indosat mengundurkan diri dan hanya empat operator yang mengembalikan dokumen, yaitu Telkomsel, Tri, Smartfren, dan XL Axiata.

Pada tahap seleksi administrasi inilah XL Axiata dinyatakan tidak lolos. Kendati demikian, Kementerian Kominfo tidak menjelaskan secara rinci mengapa operator seluler tersebut dinyatakan tidak memenuhi syarat.

"Dalam dokumen seleksi bahwa jika berdasarkan hasil evaluasi administrasi hanya terdapat tiga peserta yang lulus tahapan evaluasi administrasi dan memiliki waktu pengiriman dokumen permohonan (timestamp) yang sama, maka proses seleksi akan dilanjutkan ke penentuan peringkat melalui aplikasi pencatatan waktu," kata Ferdinandus Setu, Plt Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo, dalam keterangan resminya.

Dengan hasil ini, Smartfren mendapatkan jatah pita frekuensi blok A. Kemudian, Telkomsel mendapatkan bagian blok C, sedangkan Hutchison Tri Indonesia mendapatkan bagian blok B. Masing-masing operator seluler yang lolos seleksi mendapatkan alokasi pita frekuensi 10 Mhz.

Untuk diketahui, pita frekuensi 2,3 Ghz saat ini dihuni oleh Telkomsel dengan lebar pita 30 Mhz, Smartfren dengan lebar pita 30 Mhz, dan PT Berca Hardayaperkasa yang tersebar di beberapa zona.

Dengan demikian, Telkomsel dan Smartfren kini masing-masing memiliki lebar pita 40 Mhz, kemudian Tri Indonesia 10 Mhz, dan PT Berca Hardayaperkasa.

Selain itu, pemerintah juga mempersiapkan opsi tiga frekuensi untuk menggelar jaringan 5G. Pertama adalah lower band, ada dua opsi, yaitu 700 MHz dan 800 MHz.

Frekuensi 700 MHz saat ini masih dipakai untuk siaran TV analog, yang rencananya dimigrasi menjadi digital. Untuk menerapkan 5G di frekuensi ini, Kominfo menunggu UU Penyiaran disahkan lebih dahulu.

Kemudian untuk middle band, mulanya Indonesia memiliki dua opsi frekuensi, yakni 2,6 GHz dan 3,5 GHz. Keduanya saat ini sudah dipakai untuk koneksi satelit, penggunanya seperti Indovision dan BRI.

Meski demikian, belum diketahui kapan proses lelang ketiga frekuensi tersebut akan dilakukan untuk menggelar jaringan 5G.

Sesuai dengan pengumuman resmi pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) RI mengenai penentuan Telkomsel sebagai salah satu peserta lolos Seleksi Pengguna Pita Frekuensi Radio 2,3 GHz pada Rentang 2360–2390 MHz untuk Keperluan Penyelenggaraan Jaringan Bergerak Seluler, Telkomsel menyambut baik keputusan tersebut.

Telkomsel juga telah memilih alokasi blok C Pita Frekuensi Radio pada yaitu pada rentang 2380–2390 MHz. Telkomsel berkomitmen untuk memaksimalkan penggunaan spektrum tambahan yang telah diamanatkan pemerintah untuk mendorong penyediaan akses broadband berteknokogi terdepan dengan kualitas prima dan cakupan merata hingga pelosok negeri.

Anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) ini sekaligus akan melanjutkan roadmap pengembangan teknologi telekomunikasi terbaru yang nantinya akan diterapkan di Indonesia, seperti 5G.

Direktur Utama Telkomsel Setyanto Hantoro mengungkapkan, investasi yang dilakukan Telkomsel dalam memperoleh tambahan spektrum frekuensi ini menunjukkan keseriusan korporasi untuk selalu menjadi yang terdepan dalam memastikan terpenuhinya kebutuhan masyarakat untuk menikmati layanan broadband berteknologi terkini secara nyaman dan merata. Terutama kebutuhan dalam memperkuat ekosistem digital yang inklusif dan berkesinambungan.

“Langkah korporasi melalui investasi pita frekuensi ini dilakukan dengan telah mempertimbangan berbagai aspek, seperti strategi pengembangan investasi dan bisnis yang matang, dengan dukungan finansial yang kuat, seiring dengan roadmap transformasi Telkomsel yang kini telah menjadi perusahaan telekomunikasi digital,” ungkap Setyanto, dalam siaran pers, Jumat (18/12).

Setyanto menjelaskan, bahwa tambahan spektrum akan dimanfaatkan untuk memperkuat pengembangan layanan broadband terkini 4G LTE dengan memaksimalkan kapasitas dan kualitas jaringan broadband bagi pelanggan hingga pelosok Indonesia.

Telkomsel juga akan melanjutkan pengembangan implementasi teknologi jaringan terbaru 5G yang segera akan diterapkan di Indonesia. "Kami berharap pencapaian ini juga akan mendukung penguatan ekosistem digital di Indonesia, termasuk industri kreatif digital, e-commerce, dan mendorong transformasi digital segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM),” ujar Setyanto.

Untuk tahap awal, Telkomsel akan melanjutkan pembangunan BTS 4G LTE dengan memaksimalkan frekuensi 2,3 GHz yang tersedia, terutama di wilayah yang memiliki trafik penggunaan layanan broadband yang cukup tinggi.

Dengan demikian, Telkomsel dapat memungkinkan masyarakat untuk menikmati kecepatan akses maksimal mobile broadband yang lebih tinggi dan lebih berkualitas, dengan kapasitas jaringan yang dapat memenuhi kebutuhan aktivitas digital masyarakat.

Tambahan spektrum frekuensi 2,3 GHz sebesar 10 MHz akan segera dapat mulai digunakan setelah dilakukan proses refarming dan keluarnya Izin Pita Frekuensi Radio (IPFR) dari Kemkominfo RI pada awal tahun 2021 agar alokasi pita yang dimiliki menjadi contiguous dan dapat dioptimalkan untuk penyelenggaraan jaringan broadband.

Telkomsel juga berkomitmen untuk memenuhi kewajiban yang ditetapkan oleh Kemkominfo RI kepada para peserta lolos seleksi alokasi tambahan frekuensi 2,3 GHz.

Kewajiban tersebut meliputi penyelenggaraan showcase jaringan 5G, pembangunan infrastruktur 4G/5G di lokasi prioritas seperti destinasi wisata super prioritas (Labuan Bajo, Mandalika, Likupang, Danau Toba, dan Borobudur), serta pembangunan infrastruktur 4G/5G di sekurang-kurangnya di 25% kota/kabupaten wilayah Indonesia yang telah tersambung dengan fiber optic dengan memaksimalkan alokasi pita frekuensi radio yang diperoleh dalam proses seleksi tersebut.

“Telkomsel memahami saat ini ketersediaan spektrum frekuensi di Indonesia masih sangat terbatas, sementara perbandingan antara pertumbuhan jumlah pengguna layanan broadband dengan alokasi spektrum frekuensi yang dimiliki Telkomsel harus terus sejalan perkembangannya, ujar Setyanto.

Hingga November tahun ini, Telkomsel telah menggelar lebih dari 233.000 unit BTS, dengan ketersediaan lebih dari 105.000 BTS 4G, yang menjangkau 95% wilayah populasi di seluruh pelosok negeri.

Sepanjang 2020 ini, Telkomsel juga sudah memfokuskan pembangunan lebih dari 25.000 jaringan yang dikhususkan untuk penyediaan jaringan broadband 4G LTE.

Pada akhir 2019, Telkomsel juga telah melakukan uji coba jaringan terbaru 5G di Batam untuk sektor industri, setelah sebelumnya sukses menggelar uji coba dan showcase pemanfaatan jaringan 5G di perhelatan Asian Games 2018.

Dengan diumumkannya Telkomsel sebagai peserta lolos Seleksi Pengguna Pita Frekuensi Radio 2,3 GHz pada Rentang 2360–2390 MHz tersebut, komposisi alokasi lisensi frekuensi yang dimiliki Telkomsel menjadi sebagai berikut: frekuensi 2,3 GHz dengan lebar pita 40 MHZ, frekuensi 2,1 GHz dengan lebar pita 15 MHz, frekuensi 1,8 GHz dengan lebar pita 22,5 MHz, dan frekuensi 800/900 MHz dengan lebar pita 15 MHz.

Setyanto menyebut, penambahan spektrum frekuensi ini akan menjadi penguat bagi landasan pengembangan bisnis digital yang terus dibangun oleh Telkomsel, yang hingga kuartal ketiga 2020 telah tumbuh lebih dari 10% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

0 Response to "Sambut Jaringan 5G di Indonesia"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel